Sebelum kita membeli saham kita terlebih dahulu harus melihat kondisi IHSG, apakah dalam kondisi BULLish (uptrend) atau dalam kondisi B34Rish (downtrend)? Kenapa?
- Yang mau saya beli kan saham dengan fundamental bagus dan profitnya tumbuh terus tiap tahun.
- Yang mau saya beli saham yang sudah menunjukan sinyal STRONG BUY pada chart technical analysis.
- Yang mau saya beli kan saham yang sudah direkomendasikan oleh Goldman sachs, Merrill lynch, dll.
Semua itu dapat saja digunakan asalkan kondisi pasar (IHSG) dalam keadaan uptrend, karena kita dapat meraih profit hanya dengan satu arah (uptrend), beli diharga rendah dan jual diharga tinggi, tidak bisa sebaliknya.
Apa manfaat kita mengetahui kondisi IHSG? IHSG dari kepanjangannya adalah Indeks Harga Saham Gabungan, yang bisa kita manfaatkan untuk menggambarkan kondisi harga seluruh saham di dalamnya. Jika IHSG turun berarti sebagian besar saham di dalamnya mengalami penurunan harga, dan jika IHSG naik berarti sebagian besar saham di dalamnya mengalami kenaikan harga.
Setelah kita tahu kondisi pasar, berarti kita juga bisa menggambarkan psikologi trader atau investornya. Jika kondisi pasar uptrend dimana sebagian besar saham naik, investor akan lebih aman untuk masuk membeli, karena kemungkinan harga naik akan lebih besar, karena psikologi trader atau investor, saham naik akan ditemani/ bersama-sama dengan saham-saham lain mengikuti pasarnya.
Sedangkan jika kondisi pasar downtrend dimana sebagian besar saham turun, investor tidak ingin berspekulasi atau berjudi dengan kemungkinan harga naik lebih sedikit sekalipun saham tersebut berfundamental sangat bagus. Karena psikologi trader atau investor akan ikutan buru-buru menarik keuntungan (take profit) sebelum harga turun terlalu dalam pada saham yang berfundamental bagus tersebut. Jadilah saham yang berfundamental bagus ikut-ikutan turun harganya.
Kesimpulannya adalah IHSG menggambarkan psikologi trader dan investornya.
Selamat berinvestasi....
Showing posts with label strategi. Show all posts
Showing posts with label strategi. Show all posts
Sunday, January 23, 2011
Sunday, January 9, 2011
Jadi Investor atau Trader?
Dua pilihan itu yang biasa berada dibenak kita. Perbedaan antara keduanya adalah masalah waktu, investor melakukan pembelian saham kemudian dimiliki dalam waktu yang lama bahkan hingga mendapatkan deviden. Sedangkan trader membeli saham dalam waktu yang relatif singkat. Jika investor memiliki saham dalam jangka waktu 6 bulan ke atas, sedangkan trader hanya memiliki saham dalam jangka waktu satu hari, satu jam, atau bahkan satu menit.
Keputusan apa yang diambil sehingga memutuskan menjadi investor atau trader? Dari time frame transaksi beli/jualnya dapat dibedakan bahwa trader memiliki waktu luang sehingga sering melakukan transaksi, sedangkan investor tidak. Atau bisa juga karena skill yang dimiliki, menjadi trader lebih sulit dibandingkan menjadi investor.
Dasar apa yang digunakan oleh investor dan trader dalam melakukan transaksi? Investor dalam melakukan pembelian saham lebih didasari oleh fundamental/ kinerja suatu perusahaan dan diharapkan dimasa yang akan datang akan terus tumbuh sehingga menaikan harga sahamnya dan juga devidennya. Sedangkan trader dalam melakukan pembelian lebih sering melihat grafik teknikal beserta pola dan indikatornya, kemudian menjualnya dengan mengharapkan selisih antara harga beli dan jual saham.
Lalu apa yang kita pilih, jadi investor atau trader? Tergantung skill masing-masing tentunya, jika kita mampu menganalisa dalam waktu cepat dan tepat, bisa saja jadi trader lebih menguntungkan karena perbedaan time frame dengan investor, dengan kata lain jadi trader bisa cepat kaya, asal tahu skill dalam bertrading, jika tidak tahu malah sebaliknya bisa miskin.
Contoh investor sukses alias paling kaya di dunia adalah Warren Buffet, sedangkan contoh trader sukses adalah George Soros, namun antara Warren Buffet dan George Soros masih lebih kaya Warren Buffet dengan total kekayaan USD45 miliar diposisi no. 2 dunia sedangkan George Soros memiliki total kekayaan USD14,2 miliar diposisi 14 dunia versi Majalah Forbes 2010.
Then, how with you? Became investor or trader....
Keputusan apa yang diambil sehingga memutuskan menjadi investor atau trader? Dari time frame transaksi beli/jualnya dapat dibedakan bahwa trader memiliki waktu luang sehingga sering melakukan transaksi, sedangkan investor tidak. Atau bisa juga karena skill yang dimiliki, menjadi trader lebih sulit dibandingkan menjadi investor.
Dasar apa yang digunakan oleh investor dan trader dalam melakukan transaksi? Investor dalam melakukan pembelian saham lebih didasari oleh fundamental/ kinerja suatu perusahaan dan diharapkan dimasa yang akan datang akan terus tumbuh sehingga menaikan harga sahamnya dan juga devidennya. Sedangkan trader dalam melakukan pembelian lebih sering melihat grafik teknikal beserta pola dan indikatornya, kemudian menjualnya dengan mengharapkan selisih antara harga beli dan jual saham.
Lalu apa yang kita pilih, jadi investor atau trader? Tergantung skill masing-masing tentunya, jika kita mampu menganalisa dalam waktu cepat dan tepat, bisa saja jadi trader lebih menguntungkan karena perbedaan time frame dengan investor, dengan kata lain jadi trader bisa cepat kaya, asal tahu skill dalam bertrading, jika tidak tahu malah sebaliknya bisa miskin.
Contoh investor sukses alias paling kaya di dunia adalah Warren Buffet, sedangkan contoh trader sukses adalah George Soros, namun antara Warren Buffet dan George Soros masih lebih kaya Warren Buffet dengan total kekayaan USD45 miliar diposisi no. 2 dunia sedangkan George Soros memiliki total kekayaan USD14,2 miliar diposisi 14 dunia versi Majalah Forbes 2010.
Then, how with you? Became investor or trader....
Subscribe to:
Posts (Atom)